Selamat Datang!

Habib Hasan, Singo Barong yang Ditakuti Belanda

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo berikan sambutan dalam Haul Habib Hasan dijalan Duku Lamper Kidul Semarang/foto: syukron
Laporan: Syukron/Himawan

SEMARANG- Dari sekian banyak tokoh besar yang ada dalam sejarah perjalanan Kota Semarang, nama Habib Hasan bin Thoha bin Muhammad bin Yahya, boleh jadi belum semua masyarakat mengenal. Warga Semarang mungkin lebih mengenal tokoh besar lain seperti Kiai Bustaman, Kiai Terboyo dan Ki Ageng Pandanaran.

Tokoh Habib Hasan bin Thoha bin Muhammad bin Yahya perlu diungkap lebih luas ke publik akan sejarah perjuangannya melawan penjajahan Belanda saat itu. Habib Hasan dikenal sebagai seorang ulama dan pejuang garang.

Sehingga banyak orang memberi nama julukan Singo Barong. Habib Hasan juga memiliki hubungan kekerabatan dengan keluarga Keraton Yogyakarta, karena dia menantu Sultan Hamengku Buwono II dan ipar Hamengku Buwono III. Karena hal itu, Habib Hasan mendapatkan gelar Raden Tumenggung Sumodiningrat, Pati Lebet Kerajaan Mataram atau kerap disebut Syekh Kramat Jati.

Habib Hasan dilahirkan dari pasangan Habib Thoha bin Muhammad Al-Qadhi bin Yahya dengan Syarifah Fathimah binti Husain bin Abu Bakar bin Abdullah Al-Alydrus sekitar tahun 1736 Masehi. Habib Hasan mangkat pada tahun 1818 Masehi dan dimakamkan di Jalan Duku, Kelurahan Lamper Kidul, Kecamatan Semarang Selatan, Kota Semarang, tepatnya di belakang Java Mall.

Habib Hasan mendapat pendidikan langsung dari kedua orang tuanya sampai hafal Alquran sebelum usia tujuh tahun. Kecerdasan dan kejernihan hati yang dimiliki, menjadikannya sebelum menginjak dewasa, telah banyak hafal kitab-kitab hadist, fiqh dan lain sebagainya.

Melalui Haul Habib Hasan yang digelar Selasa (15/1/2019) malam, ribuan jamaah diharapkan meneladani perjuangan-perjuangan Habib Hasan. Selawat dan maulid yang dipimpin oleh Habib Zainal Abidin Assegaf di Jalan Duku, Lamper Kidul, Semarang Selatan, Kota Semarang pun melantun dari ribuan jamaah yang memadati Jalan Duku yang tidak jauh dari makam Habib Hasan.

Selawat terus melantun ketika menyambut kedatangan Gubernur Jawa Tengah (Jateng) Ganjar Pranowo dan rombongan. Usai berselawat, para jamaah pun menyanyikan Indonesia Raya, membaca teks Pancasila dan melantunkan lagu Syubbanul Wathon.

Kepada para jamaah, Ganjar Pranowo berharap, jika  pengajian seperti malam ini dirawat dan digelar setiap hari, dapat menjadi wahana untuk saling mengingatkan, saling menghormati dan mengoreksi. Sehingga, bentrokan dan perpecahan, tidak akan terjadi. "Ada lagu, 'Semarang Kaline Banjir.' Kalau dirawat dan dijaga bersama dengan tidak membuang sampah sembarangan, maka, Semarang tidak banjir lagi," tuturnya.

Dia juga mengatakan bahwa setiap orang untuk membahagiakan orang lain. Karena, membahagiakan orang lain itu akan mendapat pahala. Terkait menyikapi bencana, Ganjar juga meminta kepada para bupati dan wali kota untuk hati-hati dan menyiapkan masyarakatnya agar menjadi masyarakat tangguh bencana.

"Jangan saling menyalahkan. Saya merasa senang, ketika terjadi bencana di daerah lain, masyarakat bergerak bersama memberikan bantuan dengan ketulusan dan keguyuban. Bangsa ini akan terus menerus ada karena kontribusi masyarakatnya," paparnya.

Hadir dalam acara yang selesai pada Selasa (16/1/2019) pukul 00.30WIB itu, Syaikh Muhammad Adnan Al Afwiyuni dari Damascus Syria, Syaikh Riyadh Bazou dari Beirut Lebanon, Syaikh Aun Muin Al Quddumi dari Amman Jordania serta Habib Luthfi bin Ali bin Yahya dan keempatnya secara bergantian menyampaikan mauidoh khasanah. Sementara, untuk doa, dipimpin Habib Ja'far bin Muhammad bin Hamid bin Umar Alkaff.

Sebelumnya, haul diawali dengan khataman Alquran, pembacaan kitab Dala'ilul Khoirot dan kirab Merah Putih. Dalam mauidoh khasanahnya, Habib Lutfi menyampaikan Indonesia yang subur dan makmur itu juga memiliki kekayaan ulama dari Sabang sampai Merauke untuk menjadi teladan bagi penduduknya.

Untuk menjaga NKRI tetap utuh, Habib Lutfi juga menegaskan jika Indonesia lebih bernilai dari politik dan Indonesia lebih bernilai dari sebuah kelompok. "Kekuatan Indonesia ini ada tiga, Ulama, TNI dan Polri. Ketiganya harus menjadi satu karena akan menjadi kekuatan pokok," tandasnya.
(Syukron/Himawan)
Share this post :
 
| |
Copyright © 2016. ranahpesisir - All Rights Reserved
Admin by redaksi
Proudly presetnt by ranahpesisir.com