Selamat Datang!

Tantangan Ideologi dan Ekonomi di Era Globalisasi jadi Tema Halaqah Ulama Jakarta

Halaqah Ulama Jakarta digelar mulai pukul 13.00-17.30 WIB, Minggu (26/5/2019)/foto: doc
JAKARTA- Dalam rangka membentengi Umat Islam dari paham-paham radikalisme dan memperkuat pemahaman Islam yang Rahmafan lil Alamin, digelar Halaqah Ulama Jakarta, di Aula Serbaguna Masjid Jami Shodri Asshiddiq Jl.Dr Soemarno, Penggilingan Cakung Jakarta Utara, Minggu (26/5/2019).

Kegiatan mengambil tema "Ulama Nusantara dan Tantangan Ideologi serta Ekonomi di Era Globalisasi" menghadirkan beberapa nara sumber dengan peserta halaqah para ulama, ustadz dan ustadzah dari DKI Jakarta dan sekitarnya. Pimpinan dan ketua-ketua majelis taklim, ketua DKM Masjid, para mubaliqh dan mubaliqhah, dan mahasiswa/i Pendidikan Dasar Ulama (PDM).

Indonesia jadi ajang pertarungan idiologi.

Pasca reformasi bergulir, berbagai macam aliran dan ideologi baik yang tumbuh dari spirit Barat maupun Islam muncul ke permukaan, baik aliran yang embrionya telah lama ada dalam tubuh masyarakat Islam Indonesia, maupun ideologi-ideologi baru yang diimpor dari luar dengan pola gerakan transnasional dan radikal.

Indonesia menjadi ajang pertarungan berbagai macam ideologi yang kebanyakan bertentangan dengan spirit Islam maupun keindonesiaan.

Ideologi fundamentalis bercorak radikal, dengan bersuara lantang seringkali mengklaim bahwa kelompoknya berada di garis yang paling benar dan paling sesuai dengan ajaran Rasulullah saw.

Kelompok di luar dirinya dianggap sesat, ahli bid’ah, musyrik, dan anti memperjuangkan syariat.

Kondisi tersebut diperparah dengan tampilnya figur-figur yang di-Ulama-kan tampil kepermukaan membuat pahampaham radikal tersebut tumbuh subur di Indonesia.

Dari fenomena tumbuh suburnya berbagai aliran Islam radikal bercorak transnasional tersebut, di samping berdampak tereduksinya nilai-nilai ajaran Islam, dalam konteks Indonesia juga berpotensi memecah belah kehidupan berbangsa dan bernegara yang selama ini relatif aman dan damai di bawah payung NKRI.

Selain itu, kondisi ekonomi umat masih belum beranjak dari keterpurukan di tengah persaingan ekonomi lokal dan global dalam jeratan sistem ekonomi liberal yang ribawi.

Juga masih banyaknya alim ulama dan ustadz yang belum berdaya secara ekonomi menyebabkan sebagian mereka tidak mandiri secara ekonomi, mudah goyah dan terbawa arus, bahkan dapat “dibeli” dan dijadikan alat untuk kepentingan dari para elit politik yang merusak, tanpa peduli dengan nasib umat, keutuhan bangsa dan negara.

Karenanya, dalam rangka membentengi Umat Islam dari paham-paham tersebut dan memperkuat pemahaman alim ulama dan para ustadz juga ustadzah tentang Islam yang rahmatan lil Alamin yang telah berurat akar di Nusantara, serta untuk meningkatkan wawasan ekonomi umat dan keulamaan para peserta, maka MUI, dalam hal ini MUI Jakarta Timur, bersama Ikatan Pesantren Indonesia (IPI), Masyarakat Cinta Masjid Indonesia (MCM) dan Muballigh Indonesia Bertauhid menggelar kegiatan tersebut.

Acara dimulai dengan laporan ketua panitia, Drs KH Anshori Ya'kub MA, kemudian sambutan Ketua Masyarakat Cinta Masjid (MCM) Dr Wisnu Dewanto dan sambutan tuan rumah, Drs KH A Shodri HM.

Sedangkan narasumber di halaqah ini, yaitu: Pertama, KH Zaini Achmad, Ketua Umum DPP Ikatan Pesantren Indonesia (IPI) yang akan memberikan materi Pemberdayaan Ekonomi Umat Berbasis Pesantren; kedua, KH Rizal Mumazziq.

Selanjutnya, Rektor Institut Agama Islam Al-Falah Assuniyah Jember yang akan memberikan materi Jejak Genealogi Ulama Nusantara; dan Ketiga, Prof Dr KH Ahmad Baso, penulis buku Islam Nusantara yang akan memberikan materi Tantangan Ulama Nusantara di Era Global. Sebagai moderator KH Nurul Huda (ENHA).(*)

Share this post :
 
| |
Copyright © 2016. ranahpesisir - All Rights Reserved
Admin by redaksi
Proudly presetnt by ranahpesisir.com