Selamat Datang!

10 Tahun Lembaga Studi Pers dan Informasi (LeSPI)

Oleh: Maksim D Prabowo


Tidak terasa, 10 tahun sudah perjalanan Lembaga Studi Pers dan Informasi (LeSPI). Telah cukup banyak jejak yang ditinggalkan lembaga yang didirikan oleh wartawan, dosen dan aktivis LSM ini. “Keinginan untuk belajar dan berbagi”, mungkin itulah yang membuat lembaga ini ada hingga di usianya yang 10 tahun saat ini.
Membuka kembali album-album foto lama, mulai dari lembaga ini berdiri, melakukan aktivitas awal, serta menjalani aktivitas-aktivitas selanjutnya, terpampang kembali kenangan-kenangan di masa lalu.

Saya seperti menonton film otobiografi tentang lembaga ini, serta tentang diri kami-para pendiri, pengurus, pegiat yang terlibat di dalamnya. Saat itu Indonesia tengah dalam masa transisi, dari berakhirnya era pemerintahan otoriter ke euforia demokrasi. Kedepan, memang banyak kemungkinan yang akan terjadi. Pertanyaan awal yang muncul adalah “Apa yang bisa kita sumbangkan kepada masyarakat di era perubahan ini?”

Sebagian dari kami yang wartawan merasa perlu membekali diri untuk belajar banyak hal mempertinggi kualitas tulisan kami, dan dengan demikian bisa memberi manfaat yang lebih bagi konsumen media.
Bersamaan dengan itu juga kami ingin berbagi kepada wartawan lain, mahasiswa, dosen dan anggota masyarakat lain. Maka kegiatan-kegiatan diskusi, seminar, training dan workshop banyak mewarnai aktivitas lembaga ini.

Saat itu kami rata-rata masih muda, belum 30 tahun, dan belum menikah. Hanya saya, rekan Wisnu Tri Hanggoro dan Edy Barlianto yang relatif lebih tua di antara rekan-rekan lain, dengan umur merangkak ke 40 tahun.

Tapi semua relatif memiliki vitalitas yang luar biasa. Kami bisa bekerja hingga larut malam, bahkan tidak tidur, untuk mempersiapkan materi-materi workshop yang akan dijalani pada esok hari, tanpa takut masuk angin.
Tentu saja, dalam perjalanan, para pendiri sekaligus pengurus awal, tidak selamanya bisa terlibat di lembaga ini. Sebagian dari kami harus pindah ke luar Kota Semarang, untuk menjalani kariernya yang terang benderang. Tetapi LeSPI tetaplah sebuah keluarga, yang anggota-anggotanya terus mendukung satu sama lain.

Membaca komentar-komentar yang dari para kolega untuk buku ini, saya juga turut merasakan bahwa sekalipun sebagai lembaga yang relatif kecil, telah cukup banyak aktivitas yang diperbuat, banyak kalangan yang dirangkul untuk diajak kerja sama.

Tentu saja, masih banyak lagi mimpi-mimpi yang belum terwujud. Salah satu mimpi itu adalah mempunyai Sekolah Media. Di sana anak-anak muda bisa belajar jurnalistik, broadcast, produksi film, belajar menulis kreatif, dsb. Entah kapan mimpi ini bisa terwujud.

Akhir kata, kami menyampaikan terima kasih kepada pihak-pihak yang berjasa pada lembaga ini. Pertama kepada Bang Ashadi Siregar (Direktur LP3Y). Tanpanya dan tanpa ada kegiatan Crash Program Investigative Reporting yang diikuti mayoritas pendiri LeSPI, tentu lembaga ini tidak akan pernah ada.
Bang Ashadi mengapresiasi prestasi teman-teman Semarang di program itu, yang kebetulan terbaik se Indonesia, dengan nasehat, ”Kalian jangan bubar lepas dari program ini. Bagi itu ilmu untuk wartawan-wartawan lain, untuk mahasiswa”. Bang Ashadi dan senior di LP3Y juga yang menjadi tempat bertanya untuk banyak hal di awal LeSPI berdiri.

Lalu kepada teman-teman dari ISAI, Andreas Harsono, Stanley, dan lainnya, yang memberi support banyak hal ke LeSPI. Lewat Andreas lah LeSPI masuk ke jaringan LSM media lainnya, yang sudah ada, dan mendapatkan dana untuk kegiatan-kegiatan awal lembaga ini.

Kami juga menghaturkan terima kasih kepada Prof Dr Arief Budiman, yang menjadi anggota Dewan Penasihat lembaga ini. Jika pulang ke Indonesia, Pak Arief tidak lupa menggelar diskusi di LeSPI, hingga ada joke di luaran, ”LeSPI kaya sekali, bisa mendatangkan narasumber dari Australia”.

Terima kasih juga untuk Mas Darmanto Jatman, yang mau menjadi senior yang mendampingi dan menjadi bagian lembaga ini sejak awal, baik sebagai Ketua Yayasan maupun (kemudian) sebagai anggota Dewan Penasihat. ”Mas Dar” –demikian panggilannya— memang sosok unik dari Undip, yang dekat dengan wartawan maupun aktivis.

Juga kepada Bapak I Made Sutama, Kepala Perwakilan Unicef Jateng, serta DY Suharya, Program Communication Specialist Unicef Jateng, terima kasih kami haturkan.
Melalui Pak Made maupun DY, kami di LeSPI diajak untuk masuk lebih dalam untuk memahami persoalan-pesoalan yang dihadapi anak anak dunia, Indonesia, dan Jawa Tengah.

Tak lupa juga kami haturkan terima kasih untuk person-person yang terlibat di kegiatan LeSPI, baik konsultan tempat kami bertanya, maupun pendukung penting di balik layar: Herujati Purwoko, Hendrarti, Triyono Lukmantoro, Hedi Pudjo Santoso, Turnomo Raharjo, Prasojo, Agung Sedayu, Hudi Karno Sabowo, Kristian Tamtama, dan Joko Susilo.

Demikian pula kepada Yuliman Purwanto, Prof Eko Budihardjo, Prof Budi Widianarko, Prof Soetandyo, Beny Setianto, Dr Niko L Kana, Dr Pradjarto, Dr GJ Aditjondro, Drs Sutrisna, Soetjipto SH, Sasongko Tejo, Sriyanto Saputra, Jayanto Arus Adi, Adi Ekoprijono, Budi Susanto, Jhony Simanjuntak, Heru Emka, Trisnadi Waskito, Ch Retnaningsih, Dewi K Sabowo, Ananto Pradono, Gunawan Permadi, Triyanto Triwikromo, Budi Maryono, Imung Yuniardi, Triyono WS, Bawor, Agus Santoso, Tunjung, dan Joko Teguh Irianto (Anteve). Matur nuwun untuk semua sumbangannya.


Terima kasih kami haturkan juga untuk lembaga-lembaga yang memberi dukungan untuk program-program LeSPI, baik sebagai penyandang dana maupun co-partner dalam kami menjalani aktivitas: USAID, ISAI Jakarta, LP3Y, OSF, Unicef Perwakilan Jawa Tengah, Harian Suara Merdeka, TV-KU, Harian Sore Wawasan, Kompas Jateng, Radar Semarang, LBH Semarang, K3JHAM, JPPA, KP2KKN, Yayasan Percik Salatiga, Kippas Medan, LPPS Surabaya, Elsim Makasar, Radio Mara Bandung, Yayasan SET Jakarta, Visi Anak Bangsa Jakarta, LSPP Jakarta, Dewan Pers, Depkominfo, BIKK Jateng (Biro Humas Setda Jateng), PWI Jateng, ISAI Semarang, KPID Jateng, Pertuni Jateng.

Tentu banyak lagi lembaga atau person yang berjasa, bersimpati dan terus mendukung LeSPI dengan cara masing-masing. Termasuk di antaranya keluarga-keluarga pengurus yang harus sering merelakan bagian dari keluarganya bekerja extra time untuk lembaga ini. Terima kasih yang paling lama kami haturkan.(Penulis adalah Direktur LeSPI, atas nama pendiri dan pengurus LeSPI, artikel ditulis tahun 2009)
Share this post :
 
| |
Copyright © 2016. ranahpesisir - All Rights Reserved
Admin by redaksi
Proudly presetnt by ranahpesisir.com