Selamat Datang!

LPPM UPS Tegal dan Damandiri Gelar Pelatihan Pembuatan Tahu Sehat

LPPM UPS Tegal bersama Yayasan Damandiri Jakarta menggelar acara Posdaya melalui Pelatihan Pembuatan Tahu Sehat/foto: istimewa


TEGAL- Kasus tahu berformalin hingga kini masih banyak ditemui. Zat pengawet mayat ini digunakan agar tahu yang cepat busuk bisa lebih awet. Padahal, proses pembuatan yang higienis dapat membuat tahu tahan lama walau tanpa bahan pengawet. Tahu adalah makanan yang akrab dengan masyarakat Indonesia. Selain murah dan mudah didapatkan, tahu juga memiliki nilai gizi tinggi. Sayang, karena tinggi kandungan protein dan air, makanan ini memiliki masa layak konsumsi yang pendek. Karenanya, banyak pembuat tahu menambahkan pengawet.

Terkait diatas, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Pancasakti (UPS) Tegal bekerja sama dengan Yayasan Damandiri Jakarta menggelar salah satu kegiatan Pemberdayaan Masyarakat (POSDAYA) melalui Pelatihan Pembuatan Tahu Sehat, yang diadakan pada hari Rabu dan Kamis (25/7) lalu, bertempat di MKU Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Pancasakti Tegal.

Dalam kesempatan itu, Dr Purwo Susongko MPd selaku kepala LPPM UPS Tegal menyampaikan, pelatihan pembuatan tahu sehat diharapkan akan memberikan wawasan bagi para peserta untuk menjadi pengusaha-pengusaha baru, dengan permodalan yang ekonomis dan pentingnya sumber pangan bergizi dan sehat serta aman dan layak dikonsumsi keluarga.

Melalui program ini, masih kata dia, LPPM UPS Tegal beserta Yayasan Damandiri ingin mengampanyekan produksi tahu hemat energi dan ramah lingkungan serta tahu nonformalin. Tahu juga ingin diperkenalkan sebagai produk antipenuaan dini dan penghasil vitamin B-12 terbaik, selain yang dihasilkan oleh hewan.

Ir Anna Murnijati selaku nara sumber saat mempraktekan cara membuat tahu sehat dalam kegiatan pelatihan yang di gelar di MKU FPIK UPS Tegal/foto: istimewa
Dr Burhan Eko Purwanto MHum selaku Rektor UPS Tegal dalam sambutannya saat membuka acara tersebut mengemukakan, bahwa kegiatan pelatihan pembuatan tahu sehat perlu perhatian lebih dari sivitas akademika UPS Tegal untuk mensosialisasikan pembuatan tahu sehat kepada pengusaha-pengusaha tahu, banyaknya pengusaha yang menambahkan formalin ke dalam tahu adalah karena ketidaktahuan pengrajin.

“Banyak produsen skala rumahan tidak tahu akan bahaya formalin, tapi mereka dituduh dan dihukum seperti kriminal,” ujar Rektor.

Sementara itu, Ir Anna Murnijati selaku narasumber dalam kegiatan pelatihan pembuatan tahu sehat menjelaskan, bahwa proses yang steril akan membuat tahu tahan lama, meski tanpa pengawet. Cina dan Jepang bisa mengekspor tahu karena proses pembuatannya steril, sehingga bisa awet. Pabrik tahu besar di Bandung juga hanya menggunakan kunyit sebagai pengawet, karena higienitas produksinya terjaga.

Sedangkan, Bosar Pardede selaku Kasubdit Penyuluhan Makanan Siap Saji dan Industri Rumah Tangga BPOM  RI, menyayangkan sampai saat ini belum ada alternatif bahan pengawet tahu yang harga dan kemampuannya sebanding formalin. Pengawet yang diperbolehkan seperti asam askorbat dan natrium benzoat pernah diujicobakan pada tahu, namun hasilnya kurang maksimal.

“Pengawet lain, yaitu glukosa delta laktose (GDL) bisa tahan hingga 40 hari, namun belum food-grade karena belum diujicobakan untuk makanan,” pungkas Bosar. (didik)

Share this post :
 
| |
Copyright © 2016. ranahpesisir - All Rights Reserved
Admin by redaksi
Proudly presetnt by ranahpesisir.com