Selamat Datang!

Penjual Telor Asin Brebes Rambah Kota Tegal

Pedagang telor asin Brebes banyak yang merambah dan membuka usahanya diwilayah Margadana Kota Tegal. Salah satunya, Atun (duduk) bersama karyawan saat menunggu pembeli di Toko Rizka miliknya/foto:yekti sholichati.
TEGAL- Belakangan ini di wilayah Kecamatan Margadana Kota Tegal, tepatnya di pinggir jalan raya pantura, cukup banyak deretan kios atau toko yang berdiri menjajakan telor asin khas Brebes. Puluhan pedagang maupun pengusaha telor asin itu bisa dijumpai di sepanjang Jalan Wahidin Sudirohusodo sampai Jalan Dr Cipto Mangunkusumo Kota Tegal atau wilayah Pesurungan Kidul hingga Kaligangsa.

Para pedagang telor asin yang umumnya berasal dari Brebes, banyak yang merambah dan membuka usahanya di wilayah Kecamatan Margadana Kota Tegal. Pasalnya, semenjak jalan tol Trans Jawa yang melintasi Kabupaten Brebes dari Pejagan hingga Brebes Timur (Brexit-red) resmi di buka, banyak dari pengusaha maupun pedagang yang dagangannya kurang laku.

Umumnya, mereka menjajakan telor asin dalam berbagai varian, seperti telor asin rebus yang dijual seharga Rp 3.300 hingga Rp 3.500. Kemudian telor asin bakar, telor asin panggang atau oven, dan telor asin pindang yang rata-rata dijual seharga Rp 4.000. Selain telor asin, mereka juga menjual bawang merah dengan harga per kilonya Rp 25.000.

Disamping menjual oleh-oleh khas Brebes dan sekitarnya, beberapa kios telor asin juga ada yang menjual makanan atau oleh-oleh, bakpia patok yang didroping dari Jogjakarta, brem dari Madiun, serta jenang dari Kudus, tape ketan, dodol dan lain-lain. Termasuk, Poci khas Tegal dan celengan berbentuk binatang yang terbuat dari tanah.

Atun (51) pemilik Toko Rizka di Jalan Dr Cipto Mangunkusumo Kota Tegal, mengaku terpaksa membuka kios telor asin di Kota Tegal. Menurutnya, setelah jalan tol Pejagan-Brebes dibuka, dirinya bersama pedagang yang lainnya merugi. Omzetnya jauh menurun, jika dibandingkan dengan sebelum adanya jalan tol Trans Jawa.

“Dulu kami berjualan telor asin di Brebes, tepatnya di depan Kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil). Setelah dibangun dan difungsikannya jalan tol Trans Jawa dari Pejagan-Brebes Timur (Brexit), pedagang telor asin banyak yang merugi, karena barang daganganya tidak laku,” keluh Atun, yang hanya memperkerjakan satu orang karyawan.   

Atas dasar itulah, dirinya bersama para pedagang telor asin yang lain berpindah dan mendirikan kios atau toko di Kota Tegal. Umumnya, mereka mengontrak lahan atau tempat di sepanjang jalan pantura arah Jakarta, sebelum masuk Gerbang Tol Brexit.

“Ukuran kiosnya bervariasi, ada yang 3 x 6 meter, bahkan lebih dan ada yang menyewa ruko. Saya kontrak disini sudah sejak lebaran tahun lalu, bayar sewa setahunnya Rp 9 juta. Semua tergantung luas dan lokasi lahan yang disewa,” kata Atun, menambahkan.
Saat musim liburan, lanjut Atun, banyak pelancong atau pembeli yang menyempatkan diri untuk datang ke kios-kios atau toko telor asin. Mereka umumnya membeli oleh-oleh untuk dibawa pulang ke Jakarta atau Jawa Barat.

“Kalau musim lebaran, liburan dan akhir pekan, biasanya banyak pelancong yang mampir membeli telor asin atau makanan khas untuk oleh-oleh. Rata-rata pedagang telor asin disini banyak yang untung, tapi kalau hari biasa seperti sekarang ini sepi,” pungkas Atun. (sholichati/dik)
Share this post :
 
| |
Copyright © 2016. ranahpesisir - All Rights Reserved
Admin by redaksi
Proudly presetnt by ranahpesisir.com