Selamat Datang!

Arman Bandingkan Proyek MRT dengan Kerugian Negara

Sosialisasi Tindakan Preventif Peredaran Narkoba diselenggarakan PT Citilink/foto: BNN
JAKARTA- Kejahatan Narkotika di Indonesia masih terus berkembang meski berada ditengah gencarnya upaya Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN).

Deputi Pemberantasan Badan Narkotika Nasional, Arman Depari, menilai perlu adanya kerjasama yang luas antar berbagai pihak dalam menekan jumlah narkotika yang masuk ke Indonesia.

"90% narkotika yang beredar di Indonesia asalnya dari luar negeri," jelas Arman saat menghadiri Sosialisasi Tindakan Preventif Peredaran Narkoba yang diselenggarakan PT Citilink di Kantor Garuda Indonesia Grup, Bandara Soekarno Hatta, Selasa (16/4/2019).

Arman berpendapat, tingginya minat sindikat mengedarkan narkotika ke Indoneaia dipicu dengan angka jumlah penyalahguna yang cukup tinggi.

"Harga emas per gram Rp 580 ribu, harga sabu anda tau berapa? Rp 1,5 juta per gram," tegas Arman.

Menurutnya, ini menjadikan negara Indonesia sebagai pangsa pasar yang bagus bagi sindikat.
Mereka tak lagi takut akan hukuman mati. Mereka lebih takut jika kehilangan pasar produktif seperti Indonesia.

Arman pun menyinggung kerugian yang dialami negara akibat penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba.

"Negara mengalami kerugian sebesar Rp 86,4 T per tahun akibat narkoba. Bandingkan dengan proyek MRT yang memakan biaya Rp 56 T. Kita bisa buat ada MRT disetiap daerah," tandas Arman.

UNODC menetapkan sebuah negara dapat dikatakan darurat narkoba apabila presentase penyalahguna narkobanya lebih dari 2%.

Di tahun 2017, prevalensi penyalahgunaan narkoba di Indonesia  pernah menyentuh angka 2, 24%, meski akhirnya dapat ditekan hingga 1,17%. Artinya Indonesia pernah berada pada kondisi "Darurat Narkoba".

Arman dalam kesemlatan itu memberikan apresiasi kepada Citilink sebagai maskapai yang paling aktif mendukung pemerintah dalam upaya Pencegahan dan Pemberantasan.

Dikemukakan Arman, peran maskapai penerbangan amat penting dalam upaya P4GN, terutama dibidang interdiksi pengamanan jalur transportasi udara.

Arman mengaku tak jarang BNN berhasil mengungkap kasus berdasarkan laporan awak pesawat yang merasa curiga dengan penumpangnya. Pihaknya berharap kerjasama dengan Citilink dapat terus berjalan dan berkembang kearah yang lebih baik.

Sementara itu Direktur Cargo dan Pengembangan Usaha Garuda Indonesia, Muhammad Iqbal, menilai pihaknya telah berkomitmen untuk terus mendukung upaya pemerintah dalam mencegah dan memberantas peredaran narkoba.

Hal tersebut terbukti dari dilakukannya peningkatan pengamanan bandara, serta melakukan tes urine secara rutin kepada seluruh karyawan dan awak pesawat termasuk pilot.

"Kerjasama ini pun kami lakukan demi menjaga keamanan kargo termasuk adanya barang terlarang seperti narkoba," ungkap Iqbal.

Muhammad Iqbal mengaku pihaknya tak hanya bekerjasama dibidang pencegahan saja, tetapi juga dibidang interdiksi.

"Kami akan meningkatkan kemampuan x-ray dalam mendeteksi narkoba, kami juga akan bekerjasama untuk menerjunkan anjing pelacak milik BNN," imbuhnya.

Hal ini dilakukan pihak Garuda Indoneaia Group untuk mendukung upaya peningkatan pelayanan cargo dalam proses pengiriman barang ke Seluruh Indonesia.

"Kami akan menerbangkan drone, khusus cargo, tanpa awak. Biasanya kapasitas cargo drone hanya 5-10 Kg, dan yang akan kami buat adalah cargo berkapasitas hingga 5 ton," pungkas Iqbal.

Garuda Indonesia berharap pengembangan fasilitas cargo ini dapat meningkatkan pelayanan dan mampu menghubungkan pengiriman logistik dengan lebih cepat. Tentunya yang aman dan terbebas dari upaya peredaran gelap narkoba. (*)
Share this post :
 
| |
Copyright © 2016. ranahpesisir - All Rights Reserved
Admin by redaksi
Proudly presetnt by ranahpesisir.com