Selamat Datang!

Kisah Pembangunan Tugu Muda Semarang

Presiden Soekarno mengamati relief yang terdapat di kaki Monumen Tugu Muda/foto: doc Rukardi.
                 Oleh: Rukardi

Tanggal 20 Mei 66 tahun silam, Tugu Muda diresmikan. Sebagai kilas balik, saya unggah tulisan lama mengenai riwayat pembangunan monumen kebanggaan warga Kota Semarang ini, dengan sedikit tambahan informasi dari catatan NH Dini.

Kisah Pembangunan Tugu Muda

Usai meresmikan Tugu Muda pada 20 Mei 1953, Presiden Sukarno mengamati dari dekat relief yang terdapat di kaki monumen batu itu. Didampingi Gubernur Jawa Tengah R Budiyono dan Wali Kota Semarang Hadi Soebeno Sosrowerdojo, ia berkeliling dari relief satu ke relief lain.

Sang Pemimpin Besar Revolusi terlihat puas dengan hasil karya para seniman yang tergabung dalam Sanggar Pelukis Rakyat pimpinan Hendra Gunawan itu. Ia pun menyempatkan diri menyalami mereka satu persatu. Tentu, apresiasi Soekarno yang baik membuat para seniman bangga. Terlebih bagi Edhi Sunarso, salah seorang seniman, yang beroleh perlakuan lebih dari rekan-rekannya.

”Sukses ya,” kata Sukarno, seraya menjabat tangan Edhi.

Tak terlampau jelas maksud ucapan Sukarno tersebut.  Namun Edhi menduga itu ucapan selamat atas prestasinya, yang belum lama berselang memenangi sebuah kompetisi patung internasional di London, Inggris. Karyanya: ’’The Unknown Political Prisoner’’ meraih juara kedua.

”Saya tidak akan pernah lupa dengan peristiwa itu. Di Tugu Mudalah, saya kali pertama bertemu Bung Karno,” papar Edhi Sunarso.

Ya, dari perjumpaan singkat itu Edhi mengenal Sukarno, pun sebaliknya. Perkenalan itu pulalah yang menjadi titik awal hubungan akrab keduanya. Seperti kita tahu, kelak pada tahun 1960-an, Sukarno banyak memberi kepercayaan kepada Edhi untuk membuat patung-patung raksasa di Jakarta, seperti Patung Selamat Datang di Bundaran HI, Monumen Pembebasan Irian Barat di Lapangan Banteng, dan Patung Dirgantara atau lebih dikenal sebagai Tugu Pancoran.

Proyek Tugu Muda merupakan pengalaman pertama bagi Edhi dan sejumlah seniman muda dari Sanggar Pelukis Rakyat lain dalam mengerjakan karya berskala besar. Berangkat dari proyek itu, mereka kemudian mulai membuat patung-patung gigantik untuk dipajang di ruang publik.

Sebelum menyimak lebih jauh kisah Edhi Soenarso, mari kita telusuri terlebih dahulu ikhwal pembangunan monumen bersejarah itu. Tugu Muda dibangun untuk memperingati Pertempuran Lima Hari di Semarang. Itulah perang gerilya kota antara pemuda Semarang melawan bala tentara Jepang pada 14-19 Oktober 1945. Soekirno, dalam buku Semarang, terbitan Djawatan Penerangan Kota Besar Semarang, 1956, menjelaskan, semula tugu peringatan itu dibangun di tengah Alun-alun Semarang.

Peletakan batu pertamanya dilakukan oleh Gubernur Jawa Tengah Mr Wongsonegoro pada 28 Oktober 1945, atau sembilan hari pascaberakhirnya pertempuran. Lantaran masih dalam suasana perang, setiap saat tugu sederhana itu dijaga oleh pemuda pejuang bertopi baja dan bersenjatakan karaben. Mereka siap mengamankan Tugu Muda dari ancaman pembongkaran musuh, termasuk tentara Sekutu yang bermarkas di bangunan Hotel Du Pavillon. Namun pada November 1945 pertempuran kembali pecah. Laskar pemuda terdesak dan terpaksa harus meninggalkan Semarang. Tugu itu akhirnya dihancurkan musuh.

Ketika situasi kota mulai tenang, pada 20 November 1949, ide pembangunan Tugu Muda yang baru kembali dilontarkan. Kali ini oleh Badan Koordinasi Pemuda Indonesia (BPKI) yang beranggotakan eks anggota angkatan muda, antara lain Martadi, Soeroso, A Djaja, Soewarno, Tjipto, Salim, dan Letnan Kolonel Soediarto. Selain tugu, mereka juga berencana membangun taman makam pahlawan. Namun karena ketiadaan biaya, rencana itu belum bisa direalisasikan. Pembangunan tugu baru menemukan kejelasan pada 1951. Saat itu Wali Kota Hadi Soebeno Sosrowerdojo yang ditunjuk sebagai ketua panitia Tugu Muda serius mewujudkannya. Pada Mei 1952, monumen itu mulai dibangun.

Namun beda dari sebelumnya, Tugu Muda baru dibuat tepat di tengah Wilhelmina Plein atau Lapangan Wilhelmina, yang terletak di depan Lawangsewu. Peletakan batu pertama dilakukan oleh Gubernur R Boediono dan disaksikan Mr Wongsonegoro, yang saat itu menjabat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.

***

Begitu menerima order pembuatan Tugu Muda dari Wali Kota Semarang, Hadi Soebeno Sosrowerdojo, Hendra Gunawan segera membentuk tim. Ia ajak anak buahnya dari Sanggar Pelukis Rakyat Yogyakarta untuk mengerjakan proyek besar itu. Tak semua anggota dikerahkan. Selain Hendra Gunawan, CY Ali, dan Rustamadji, selebihnya anggota baru. Mereka adalah Edhi Sunarso, Juski Hakim, Chairul Bahri, Nasir Bondan, Tjahjono, dan Djoni Trisno.

Membuat tugu batu setinggi 20-an meter pada masa itu bukan pekerjaan sederhana. Meski sebelumnya telah akrab dengan media batu, patung yang mereka buat rata-rata berukuran kecil. Kurangnya pengalaman tak membuat Hendra Gunawan dan kawan-kawan menyerah. Untuk mengatasi problem tersebut, mereka lantas berguru kepada tukang kijing di daerah Pakem, Sleman.

”Pada masa itu di Muntilan belum ada pengrajin arca batu. Sedangkan di Borobudur dan Prambanan baru ada tukang pembuat balok-balok batu untuk keperluan renovasi candi,” kata Edhi Sunarso.

Setelah punya bekal ilmu, para seniman mulai bekerja. Mereka mengerahkan pikiran dan tenaga untuk mewujudkan Tugu Muda. Pertama, Hendra meminta Edhi mentransformasikan desain yang dibuat oleh Salim, seorang anggota Panitia Tugu Muda, menjadi prototipe dengan bahan lempung. Setelah itu baru mencari bahan baku batu. ”Kami akhirnya mendapatkan batu andesit yang bagus di daerah Ngadirejo, Pakem, Sleman. Batu-batu itu kami bentuk kasar di lokasi, baru kemudian diangkut ke Semarang.”

Karena tugu yang hendak dibuat berukuran besar, jumlah batu yang dibutuhkan pun banyak. Edhi tak lagi ingat berapa meter kubik batu yang dibawa ke Semarang. Ia hanya ingat jumlah truk pengangkutnya, yakni lima buah. Dengan truk-truk itu pula, para seniman berangkat dari Yogyakarta ke Semarang.

Dari seluruh proses pembangunan, pembuatan relief di sayap kaki tugu paling menyita perhatian. Supaya pengerjaannya lebih fokus, mereka pun berbagi tugas. Sebagai ketua, Hendra menentukan tema relief di lima sayap kaki yang ada. Setelah itu, para seniman bebas memilih tema yang disukai dan merumuskannya ke dalam bentuk relief.

Lima tema tersebut adalah ”hongerodeem” atau busung lapar (dikerjakan Edhi Sunarso), ”pertempuran” (Juski Hakim), ”penyerangan” (Chairul Bahri), ”korban” (Nasir Bondan), ”kemenangan” (Djoni Trisno, CY Ali, Tjahjono). Sedangkan ornamen-ornamen lain, termasuk lambang sila-sila dari Pancasila dikerjakan oleh Roestamadji.

Seniman bebas menginterpretasi tema yang dibuat oleh Pak Hendra. Edhi Sunarso yang membuat hongerodeem misalnya, mengisi dua bidang batu di sayap kaki tugu jatahnya dengan gambar manusia-manusia yang kurus, miskin dan kelaparan.”Selain dari foto-foto di majalah, saya juga memperoleh gambaran penderitaan rakyat itu dari pengamatan. Semasa pendudukan Jepang, saya lihat banyak orang kelaparan yang kleleran di jalan-jalan,” ujar Edhi.

Seniman Sanggar Pelukis Rakyat dibantu sejumlah tukang bekerja keras menyelesaikan proyek Tugu Muda. Setiap hari mereka bekerja mulai pukul 07.00 hingga pukul 21.00. Malam hari mereka beristirahat di sebuah rumah kontrakan di belakang pertokoan Jalan Pandanaran. Sebuah foto dokumentasi pembangunan Tugu Muda menampakkan aktivitas para seniman. Sebagian dari mereka memahat relief, sebagian lainnya mengurusi pekerjaan konstruksi.

Sastrawan NH Dini dalam seri kenangannya Kuncup Berseri menuliskan pengalaman berinteraksi dengan para seniman Sanggar Pelukis Rakyat. Di sela-sela mengerjakan proyek Tugu Muda rupanya mereka masih menyempatkan diri menggelar pameran di salah satu ruangan di Gedung Rakyat Indonesia Semarang (GRIS). Dari perkenalan di tempat pameran, para seniman itu kemudian sering mengunjungi rumah Dini di Kampung Sekayu.

Soekirno, dalam buku Semarang, terbitan Djawatan Penerangan Kota Besar Semarang (1956), mengungkapkan, proyek Tugu Muda menelan dana Rp 200 ribu. Padahal sebelumnya, panitia hanya menganggarkan Rp 30 ribu. Pembengkakan itu, kata Soekirno akibat kenaikan harga barang.

Tugu Muda diresmikan oleh Presiden Sukarno tepat pada hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 1953. Acara yang dilaksanakan pukul 09.25 tersebut mendapat perhatian besar dari warga. Ribuan orang berdesak-desakan di seputar area tugu berbentuk lilin yang melambangkan semangat juang para pemuda Semarang itu.(*)
Share this post :
 
| |
Copyright © 2016. ranahpesisir - All Rights Reserved
Admin by redaksi
Proudly presetnt by ranahpesisir.com