Selamat Datang!

Melihat Dari Dekat Potensi Wisata Desa Pagerwangi

Wisata Desa Pagerwangi Kecamatan Balapulang Kabupaten Tegal/foto: istimewa
Desa Pagerwangi terletak di Kecamatan Balapulang Kabupaten Tegal, sekitar 13 km dari Kota Slawi dengan waktu tempuh sekitar 30 menit. Kecamatan Balapulang memiliki bentang alam yang cukup unik. Topografinya berbukit-bukit dan banyak didominasi oleh bebatuan yang merupakan sisa-sisa aktivitas vulkanik Gunung Slamet. Bila ditarik garis lurus, Gunung Slamet hanya berjarak sekitar 19 km dari Desa Pagerwangi.

Pertanian Padi Musiman

Mata pencaharian masyarakat Desa Pagerwangi rata-rata bergerak di sektor pertanian padi musiman. Di musim kemarau warga desa banyak yang pergi merantau untuk mencari rejeki dengan bekerja apa saja (serabutan), ketika musim penghujan tiba mereka kembali ke desa untuk menggarap sawahnya.


Pemuda Desa Urbanisasi

Banyak warga desa,  terutama anak muda usia produktif, yang memilih untuk merantau secara permanen, khususnya ke Jakarta. Mereka hanya pulang ke desanya sesekali, pada saat hari-hari libur. Dengan kondisi tersebut, maka desa mengalami situasi kesulitan untuk mencari sumber daya manusia terutama anak-anak muda.

Bagi sebagian besar anak muda, khususnya yang merantau, mereka merasa bahwa potensi yang ada di Desa Pagerwangi kurang bisa diharapkan untuk dapat memenuhi kebutuhan ekonomi mereka. Biasanya anak-anak muda desa berangkat merantau selepas lulus SMA.

Karena kondisi itulah, maka di Desa Pagerwangi rata-rata hanya bisa dijumpai warga desa berusia tua, dan anak-anak kecil sampai usia SMA. Hal ini menyebabkan cukup sulit untuk mengembangkan program dan kegiatan warga yang inovatif dalam rangka pembangunan desa.

Di samping itu, terjadi kondisi di mana cukup banyak warisan leluhur yang akhirnya terputus dan tidak lagi dikenal oleh generasi muda, seperti contohnya seni budaya, tradisi, sejarah desa, dan beraneka kekayaan kearifan lokal yang akhirnya hilang, karena tidak ada lagi anak muda yang mempelajari serta melestarikannya.


Bukit Penanda Alam

Di Desa Pagerwangi terdapat dua buah bukit, yang menjadi penanda unik bentang alam desa, sehingga dari kejauhan pun orang bisa dengan mudah mengetahui letak desa dengan penduduk 1541 jiwa ini. Bukit Penawungan dan Bukit Gua Rangkok, demikian nama kedua buah bukit yang namanya sudah tertulis di peta kuno Belanda buatan tahun 1941.

Puncak Bukit Penawungan memiliki ketinggian 400 meter di atas permukaan laut. Bukit yang lahannya adalah milik warga secara perorangan ini cukup lebat ditumbuhi beraneka pepohonan. Namun sayangnya sebagian dari bukit ini sekarang mulai rusak akibat eksploitasi penambangan galian C, karena di bawah permukaan tanahnya terdapat lapisan tebal bebatuan yang umum digunakan sebagai material dalam pekerjaan-pekerjaan konstruksi.

Hal ini ke depannya dikhawatirkan akan berpengaruh pada peresapan air dan ketersediaan sumber air, yang saat inipun sebenarnya sudah sulit dalam memenuhi kebutuhan warga untuk keperluan sehari-hari, apalagi untuk pengairan pertanian

Alasan warga desa melepaskan tanahnya kepada investor yang melakukan eksploitasi penambangan galian C adalah karena kebutuhan ekonomi. Mereka menjual tanahnya kepada investor untuk bisa mendapatkan uang dengan cara cepat dan dalam jumlah besar.

Untuk Bukit Goa Rangkok, posisinya berada tepat di depan Bukit Penawungan. Bukit ini memiliki ketinggian 350 m di atas permukaan laut. Dari kaki bukit yang permukaannya berupa tanah dengan banyak pepohonan, sampai ke puncak bukit yang berupa bebatuan, kira-kira memiliki elevasi ketinggian hampir 100 meter. Bukit Goa Rangkok memiliki beberapa tebing tegak lurus, dan lima puncak bebatuan dengan aneka bentuk formasi yang unik, yaitu puncak Wadas Lawang 1 dan 2, Watu Tumpang, Watu Kukusan, dan Pengancikan.

Dari puncak Bukit Gua Rangkok ini kita bisa melihat pemandangan indah Desa Pagerwangi dan desa-desa di sekitarnya. Terutama di sore hari saat menjelang matahari terbenam, di situlah pengunjung bisa menikmati sajian premium panorama alam yang sangat cantik, perpaduan antara hijaunya persawahan dan perbukitan, yang berbaur dengan warna senja kemerahan.

Jenis batuan yang membentuk tebing dan puncak Bukit Goa Rangkok adalah batuan breksi. Kata breksi berasal dari bahasa Italia, yang berarti "lepasan kerikilan" atau "batuan yang dibuat oleh kerikilan yang tersemen". Batuan breksi berasal dari magma, fragmen (butiran) breksi memiliki ukuran yang relatif besar, minimal lebih dari 2 mm, dan mempunyai banyak sudut, di mana ruang antara butiran fragmennya diisi oleh partikel-partikel yang lebih kecil (biasa disebut matriks) atau semen berupa mineral yang mengikat batuan secara bersama-sama.


Peninggalan Perang Dunia

Dengan melihat pemetaan potensi dan masalah yang ada di Desa Pagerwangi, maka Pemerintah Desa Pagerwangi bersama Pendamping Desa dan Pendamping Lokal Desa, melakukan kerjasama dengan pergerakan HIDORA (Hiduplah Indonesia Raya), untuk merencanakan pengembangan wisata Desa Pagerwangi.

HIDORA merupakan lembaga yang intens dalam mengembangkan berbagai program pemberdayaan masyarakat melalui wisata desa, berbasis pelestarian budaya dan konservasi alam serta lingkungan hidup, yang sudah banyak bergerak mendampingi desa-desa di wilayah Kabupaten Tegal dan di beberapa kota/kabupaten di Jawa Timur (Banyuwangi, Jember, Malang, Batu)

Konsep jangka menengah dan jangka panjang program pengembangan Wisata Desa Pagerwangi berupa wisata petualangan, wisata alam, wisata agro, dan wisata budaya. Untuk program jangka pendek di tahun 2018 ini akan diawali dengan mengembangkan wisata via ferrata di Bukit Goa Rangkok, yang untuk proses pengerjaan konstruksi instalasinya digarap oleh Dvipantara Lestari, sebuah lembaga yang expert di bidang outdoor activities dan adventure tour,  serta telah berpengalaman membangun dan mengembangkan via ferrata di Jawa Timur.

Via ferrata sendiri adalah teknik panjat dengan mendaki tangga besi yang "ditanam" di dinding  tebing. Besi yang ditanam di sepanjang dinding tebing batu masing-masing berjarak 50 cm dengan kedalaman 20 cm. Alat pengaman sampai perekat tangga besi semuanya berstandar. Satu batang anak tangga besi mampu menopang beban 22 kg Newton atau setara dengan 500 kg.

Pemanjatnya menggunakan peralatan standar safety berupa harness, tali panjat, lanyard, karabiner (pengait), dan helm. Tiap orang punya dua pengaman. Satu dipasangkan di kabel baja yang membentang di kiri atau kanan tangga. Pengaman lainnya dipasangkan di tangga via ferrata.

Tercatat dalam sejarahnya,  generasi pertama via ferrata lahir di Austria pada tahun 1843, oleh Hocher Saschein. Pada tahun 1869 dibuat via ferrata yang menghubungkan dua puncak gunung Grosaclockner, gunung dengan puncak tertinggi di Austria.

Pada saat perang dunia pertama, tahun 1914 jalur via ferrata dibuat di tebing batu gunung Dolomites oleh pasukan Italia yang sedang bertempur melawan pasukan Austria. Pasukan Italia membangun jalur via ferrata di gunung ini untuk membantu pergerakan tentara dan logistik serta peralatan perang, untuk dipindahkan dari satu sisi gunung ke sisi lainnya.

Selain via ferrata peninggalan perang dunia yang kini dimanfaatkan untuk wisata, sejak tahun 1960-an mulai banyak dibangun via ferrata di berbagai tempat di dunia untuk kepentingan fun dan wisata petualangan. Di Indonesia sendiri via ferrata pertama kali dibangun di Gunung Parang, Purwakarta, Jawa Barat pada tahun 2015.


Via Ferrata Bukit Rangkok

Wisata petualangan Via ferrata di Bukit Rangkok Desa Pagerwangi berupa aktivitas mendaki dan memanjat Bukit Goa Rangkok, menjelajah tebing-tebing vertikal dan lima puncak bukit batu yang membentang dari sisi selatan sampai utara. Masing-masing bukit dan tebing memiliki variasi karakteristik medan dan sensasi yang berbeda, dengan bonus sajian pemandangan yang sangat indah, terutama di senja hari.

Selain memanjat tangga besi, terdapat varian jalur jembatan titian dari kabel baja, jembatan Burma (jembatan dengan pijakan kayu yang di kiri dan kanannya diikat kabel baja). Selain itu terdapat beberapa spot foto menarik, dan hammock (tempat tidur gantung) yang dipasang di bibir tebing. Jalur petualangan dimulai dari basecamp, mendaki jalan setapak ke puncak bukit paling selatan, memanjat tebing-tebing naik turun 5 bukit, sampai kembali lagi ke basecamp, dengan total panjang rute lebih dari 1 km, yang bisa ditempuh dalam kisaran waktu 2 jam.

Via ferrata Bukit Rangkok sebenarnya tidak terlalu sulit untuk dilakukan pengunjung dari berbagai usia, mulai anak-anak SD sampai orang tua, namun memang memiliki tingkat resiko yang tinggi bila dilakukan tanpa peralatan safety standar. Anak-anak dengan tinggi minimal satu meter, dan pengunjung yang tidak berpenyakit jantung atau ayan, bisa mengikuti aktivitas via ferrata ini. Untuk bagaimana teknik pemanjatan serta safety akan ada briefing sebelumnya, dan setiap kelompok tamu akan dipandu oleh guide.

Bagi orang-orang yang sudah terbiasa melakukan kegiatan petualangan di alam bebas, tetap ada medan-medan vertikal yang sangat menantang, namun semua tetap dapat ditempuh dengan aman, karena ditunjang dengan peralatan safety standar.

Via ferrata di Bukit Rangkok Desa Pagerwangi merupakan via ferrata pertama di Indonesia yang dikelola sepenuhnya oleh desa, melalui BumDes (Badan Usaha Milik Desa) dan Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata), dengan permodalan dari dana desa. Via ferrata lainnya di Indonesia dimiliki dan dikelola oleh perusahaan operator wisata petualangan atau pribadi.

Harapannya, wisata via ferrata Desa Pagerwangi ini bisa menjadi solusi atas kondisi permasalahan di Desa Pagerwangi, terutama dari sisi pengembangan potensi ekonomi desa, mampu mengurangi angka urbanisasi anak muda desa, melalui terciptanya usaha pariwisata desa berikut segala bisnis turunannya.

Wisata via ferrata ini juga akan menjadi media yang produktif dalam menjaga dan merawat bukit batu sebagai bentang alam unik penanda desa, mampu menghasilkan pemasukan ekonomi bagi para pemilik lahan, agar bukit tidak dieksploitasi dan ditambang demi memenuhi kebutuhan ekonomi, sekaligus untuk melestarikan kawasan perbukitan sebagai area resapan air bagi Desa Pagerwangi.


Launching Wisata Desa Pagerwangi

Untuk mengabarkan pada publik mengenai keberadaan wisata via ferrata Goa Rangkok Desa Pagerwangi, maka pada hari Senin, 24 Juni 2019 akan diselenggarakan kegiatan Launching Wisata Desa Pagerwangi.

Kegiatan launching ini dilaksanakan berbarengan dengan kegiatan Tilik Desa yang merupakan program rutin dari Bupati Tegal dan Pemerintah Kabupaten Tegal untuk "blusukan" dari desa ke desa di wilayah Kabupaten Tegal, dalam rangka meninjau langsung dan memberikan layanan pada masyarakat desa.

Jadi dalam kegiatan Launching Wisata Desa Pagerwangi dan program Tilik Desa ini, masyarakat Desa Pagerwangi mendapatkan sajian layanan dan kegiatan yang menarik dalam satu hari penuh, mulai pagi sampai malam hari, berupa aktivitas pentas seni budaya, launching via ferrata, sampai kegiatan pelayanan publik seperti pengurusan KTP, SIM, Kartu Keluarga, serta layanan kesehatan. Kegiatan ini akan dihadiri oleh Bupati Tegal (sekaligus untuk me-launching Wisata Desa Pagerwangi), pejabat-pejabat terkait dari Pemerintah Kabupaten Tegal, Muspida, Camat dan jajaran Pemerintah Kecamatan Balapulang dan Musical.

Untuk kegiatan pentas seni budaya yang ditampilkan dalam Launching Wisata Desa Pagerwangi, akan disuguhkan berbagai performance unik dan menarik, baik dari komunitas seniman desa, seniman kecamatan Balapulang,  seniman Kabupaten Tegal, dan beberapa seniman nusantara dari beberapa kota dan kabupaten lain di Indonesia, serta performance dari beberapa seniman mancanegara. Rencananya mereka akan tampil, baik secara personal, group, ataupun berkolaborasi lintas bangsa dengan seniman lokal desa, dan lintas bidang kesenian.

Selain untuk menyumbangkan performance-nya, kehadiran para seniman dari berbagai daerah dan dari mancanegara ini diharapkan akan bisa memberi support dan semangat yang maksimal kepada Pemerintah Desa dan warga Desa Pagerwangi.

Ketika orang-orang dari luar desa saja punya kepedulian dan ingin membantu pengembangan Desa Pagerwangi, maka diharapkan warga Desa Pagerwangi juga makin termotivasi untuk terlibat lebih dalam pada program-program pembangunan dan pengembangan desa mereka sendiri.

Ketika orang-orang dari luar Desa Pagerwangi saja peduli untuk melestarikan bentang alam bukit-bukit bebatuan di Desa Pagerwangi, maka diharapkan warga desa sendiri pun akan lebih termotivasi untuk menjaga kelestarian bukit-bukit di desa mereka, yang merupakan kekayaan alam milik mereka sendiri.

Beberapa seniman mancanegara yang akan hadir adalah seniman-seniman yang sedang belajar kesenian tradisional nusantara, seperti gamelan, karawitan, dan alat-alat musik tradisional lainnya.

Diharapkan kehadiran dan performance mereka akan menjadi pelecut semangat bagi kita semua, di mana orang-orang dari luar negeri saja cinta dan mau belajar seni budaya tradisi Indonesia, bagaimana dengan kita,  terutama anak-anak muda Desa Pagerwangi..? (*)



Share this post :
 
| |
Copyright © 2016. ranahpesisir - All Rights Reserved
Admin by redaksi
Proudly presetnt by ranahpesisir.com