Selamat Datang!

Wujud Syukur, Masyarakat Desa Klareyan Gelar Sedekah Bumi

Masyarakat Desa Klareyan Kecamatan Petarukan Kabupaten Pemalang kirab tumpeng syukur buwono dalam acara sedekah bumi, Rabu (31/7/2019)/foto: yusmiladi

Laporan: Yusmiladi

PEMALANG- Dalam sistem pertanggalan Jawa ada satu bulan yang dikenal dengan Bulan Apit. Bulan Apit adalah salah satu bulan yang amat mulia dan biasanya dianggap sebagai bulan yang sangat sakral.

Pada bulan ini masyarakat Desa Klareyan Kecamatan Petarukan Kabupaten Pemalang mempunyai tradisi yang disebut dengan Sedekah Bumi.

Bertempat di Makam Mbah Buyut Jurang Mangu, cara sedekah bumi ini diadakan sebagai wujud rasa syukur masyarakat atas hasil pertanian yang telah didapatkan dalam satu tahun ini.

Acara diawali dengan kirab tumpeng "syukur buwono", yaitu tumpeng berukuran besar yang dihiasi dengan hasil-hasil pertanian masyarakat Desa Klareyan.

Acara adat ini sebenarnya sangat populer di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa. Tradisi sedekah bumi mempunyai makna yang dalam bagi masyarakat, sedekah bumi itu sudah menjadi salah satu bagian yang sudah menyatu dengan masyarakat.

Satu hal yang tidak akan mampu untuk dipisahkan dari budaya Jawa. Karena menyiratkan simbol penjagaan terhadap kelestarian yang khas bagi seluruh masyarakat, khususnya yang ada di pulau jawa.

Kegiatan ini menjadi pengalaman yang luar biasa untuk Tim II KKN Undip Desa Klareyan, karena dapat turut serta dalam seluruh rangkaian Sedekah Bumi ini.

"Kami sangat senang sekali bisa menambah khasanah wawasan dan budaya masyarakat di Desa Klareyan ini," ungkap salah satu mahasiswa KKN.

Kades Klareyan, Wiharnyo mengapresiasi semangat warga yang guyub dan semangat dalam nguri uri budaya/foto: yusmiladi
Wiharnyo ST selaku Kepala Desa Klareyan dalam sambutannya, Rabu (31/7/2019) mengucapkan banyak terima kasih kepada segenap warga masyarakat yang begitu guyub rukun atas terselenggaranya acara ini.

"Tradisi seperti ini semata-mata sebagai perwujudan rasa syukur kita semua atas segala riski yang dilimpahkan kepada warga masyarakat Desa Klareyan," jelasnya.

Puncak acara sedekah bumi ini di isi dengan tausiyah yang pada kegiatan ini disampaikan oleh KH Ahmad Subkhan dari Comal.

Dalam pelaksanaannya, masyarakat di Desa Klareyan memiliki tradisinya masing-masing, warga berkumpul di satu tempat untuk berkumpul dan mengadakan syukuran. Masyarakat akan membawa makanan dari rumah masing-masing dan dikumpulkan menjadi satu kemudian dilanjutkan doa bersama.

Setelah dilakukan doa masyarakat akan saling bertukar makanan untuk dibawa pulang kembali.

Desa lain juga memiliki tradisi sedekah bumi, ada juga yang memperingatinya dengan mengadakan pagelaran wayang.

Meskipun setiap desa memiliki cara yang berbeda dalam memperingati sedekah bumi, namun mereka memiliki tujuan yang sama, yaitu sebagai wujud syukur kepada Sang Pencipta agar hasil pertanian tahun depan tetap berhasil dan melimpah.(*).
Share this post :
 
| |
Copyright © 2016. ranahpesisir - All Rights Reserved
Admin by redaksi
Proudly presetnt by ranahpesisir.com