Selamat Datang!

Tanggul Penanggulangan Banjir Selesai, Pekalongan Diyakini Bebas Banjir Rob

Bupati Pekalongan Asip Kholbihi bersama rombongan meninjau Sungai Mrican di Desa Wonokerto Kulon Kecamatan Wonokerto Kabupaten Pekalongan/foto: istimewa
KAJEN- Bupati Pekalongan, KH Asip Kholbihi SH MSi meyakini pada akhir tahun 2019 ini Kabupaten Pekalongan akan bebas banjir rob. Pasalnya, pembangunan tanggul penanggulangan banjir dan rob selesai dibangun.

Keyakinan itu disampaikan Bupati
Saat meninjau penutupan Sungai Mrican di Desa Wonokerto Kulon, Kecamatan Wonokerto Kabupaten Pekalongan, Selasa (15/10/2019) sore.

Dalam tinjauan itu, Bupati didampingi Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sirhan, Kepala Bappeda dan Litbang Bambang Irianto, Kepala Dinas Perkim dan LH Trinanto, dan Kepala BPBD Budi Raharjo.

“Penutupan Sungai Mrican ini sebagai satu bagian dari desain besar penanggulangan rob di Kabupaten Pekalongan. Alhamdulillah berjalan dengan lancar dan didukung oleh para pemilik kapal. Ini ada puluhan kapal yang dulunya ada di selatan tanggul kita geser ke utara tanggul,” ujar Bupati.

Tujuannya, lanjut dia, sesuai dengan persoalan teknis, yakni sesuai dengan perencanaan dimana salah satu sumber rob diyakini akibat tingginya volume Sungai Mrican.

"Rob yang menggenangi wilayah Wonokerto dan sekitarnya ini adalah sumbernya dari Sungai Mrican. Oleh karena itu pada hari ini Sungai Mrican kita tutup,” kata Bupati.

Disampaikan, air yang masuk ke Sungai Mrican hanya air rumah tangga. Jika hujan lebat dan volumennya bertambah, maka akan dipompa ke longstorage.

“Ini upaya kita untuk penanggulangan rob secara maksimal. Alhamdulillah progresnya berjalan dengan baik, dari paket 1,2 dan 3. Saya berterima kasih terutama kepada seluruh pelaksana, yaitu dari BBWS Semarang yang terus-menerus melakukan koordinasi sehingga apapun yang terjadi selalu bisa kita komunikasikan. Dan dukungan penuh masyarakat Kecamatan Wonokerto, khususnya para pemilik kapal yang dengan kesadaran sendiri memindahkan kapal yang tonasenya besar,” terangnya.

Ditandaskan, Sungai Mrican secara resmi sudah ditutup, artinya air tidak mengalir ke laut karena sudah dibendung tanggul.

“Masyarakat juga senang karena lingkungan bersih, dan tambat labuh kapal lebih dekat dengan laut. Nanti akan dilengkapi sarana-prasarana untuk istirahat para nahkoda dan ABK (anak buah kapal),” imbuhnya.

Asip meyakini, jika tanggul selesai dibangun wilayah yang terdampak rob pada tahun 2019 ini akan bebas rob.

"Wilayah yang selama ini tergenang rob mudah-mudahan bisa bebas sehingga masyarakat bisa normal kembali,” harapnya.

Selain menanggulangi rob, tanggul itu juga ada longstorage sepanjang 4 kilometer, lebar 30 meter, dan dengan kedalaman air 5 meter yang akan dikembangkan sebagai tempat wisata dan olahraga air. Manfaat lainnya, ada akses jalan yang bisa dilalui warga untuk ketambak, dan akses baru dari satu desa ke desa lainnya.

Sementara itu, perwakilan pelaksana proyek, Agus Yanto, menerangkan, progres tanggul rob sudah 98 persen. Target pembangunan tanggul sepanjang 4 km itu pada Desember 2019.

"Kita tinggal perapian saja dan proteksi di atasnya. Di atasnya nanti akan dikasih sirtu sehingga nanti bisa untuk akses lalu lintas para nelayan,” terang dia.

Salah satu pemilik kapal, Slamet mengaku tidak keberatan tambat labuh kapal dipindahkan ke sisi utara tanggul. Ia meminta agar di lokasi itu dibangun sarana prasarana untuk nahkoda, ABK, dan nelayan seperti musala dan lainnya. Selain itu, akses ke lokasi itu agar diberi lampu penerangan jalan. (*)
Share this post :
 
| |
Copyright © 2016. ranahpesisir - All Rights Reserved
Admin by redaksi
Proudly presetnt by ranahpesisir.com