Selamat Datang!

Misteri Lailatul Qadar

Oleh : Dr Achmad Irwan Hamzani

Saat ini umat Islam yang menjalankan ibadah puasa sudah memasuki 10 hari terakhir. Puasa di bulan Ramadhan begitu istimewa dan syarat makna. Banyak kesempatan untuk mendapatkan kebaikan (pahala) meskipun Ramadhan kali ini dalam situasi Pandemi Covid-19. Umat Islam yang berpuasa tentunya tidak harus tetap semangat, dan perlu terus meningkatkan intensitas ibadah di hari-hari akhir sebelum Ramadhan berlalu.

Sering disampaikan dalam forum-forum pengajian bahwa puasa sebelum penuh di bulan Ramadhan dibagi menjadi 3 fase, yaitu 10 hari pertama sebagai maghfirah (terbuka ampunan dari Allah Swt.), 10 hari kedua sebagai rahmah (mendapatkan curahan rahmat), dan 10 hari ketiga itqun min al-nar (dibebaskan dari api neraka).

Dapat pula diklasifisikan pada pada 3 fase lainnya yaitu 10 hari pertama sebagai puasa fisik, artinya pada 10 hari pertama secara fisik masih perlu penyesuaian dari kebiasan makan dan minum di siang hari beralih di malam hari, 10 hari kedua puasa ruhani, artinya secara ruhani menghindari hal-hal yang dapat mengurani nilai puasa, dan 10 hari ketiga puasa spiritual, artinya diharapkan mendapatkan pengalaman sprititual. Dengan mendapatkan pengalaman spiritual, orang yang berpuasa akan memiliki dampak spiritual yang akan tampak pasca Ramadhan.

Fase 10 hari akhir begitu istimewa. Mengapa demikian? Setidaknya ada dua alasan:

Pertama, 10 hari akhir ini merupakan penutupan bulan Ramadhan, sedangkan amal perbuatan itu tergantung pada penutupan atau akhirnya. Hendaknya setiap manusia meangakhiri hidupnya atau perbuatannya dengan kebaikan. Boleh jadi ada orang yang jejak hidupnya melakukan sebagian kebaikan, namun ia memilih mengakhiri hidupnya dengan kejelekan. 10 hari akhir Ramadhan merupakan pamungkas, hendaknya setiap manusia mengakhiri Ramadhan dengan kebaikan, yaitu dengan mencurahkan daya dan upaya untuk meningkatkan amaliyah ibadah di sepanjang 10 hari akhir Ramadhan.

Kedua, dalam sepuluh hari akhir Ramadhan turunnya lailatul qadar. Lailatul qadar merupakan malah penuh istimewa yang sangat dinanti-nantikan setiap mukmin yang berpuasa menjelang akhir Ramadhan. Ibadah-ibadah yang dilaksanakan bertepatan dengan lailatul qadar akan memiliki nilai yang sama dengan ibadah-ibadah yang dikerjakan selama seribu bulan. Siapa saja yang mendapatkan lailatul qadar di bulan Ramadhan, sedangkan ia menjalankan ibadah kepada Allah, maka ia sebenarnya telah memperoleh pengalaman spiritual yang tak terhingga nila harganya selama seribu bulan atau lebih 80 tahun.

Hal ini sesuai dengan firman Allah Swt. dalam Q.S. al-Qadar: “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.”

Para ulama melakukan ijtihad tentang waktu jatuhnya lailatul qadar. Menurut sebagian ulama, lailatul qadar jatuh bertepatan dengan tanggal 17 Ramadhan yang dikaitkan dengan peristiwa Perang Badar. Menurut al-Qur’an, perang pertama kali yang terjadi dalam sejarah Islam ini merupakan perang pembeda, al-furqan. Terjadinya perang ini disebutkan oleh al-Qur’an sebagai “hari bertemunya dua kekuatan” (yaum al-taqa al-jam’an), seperti digambarkan dalam surat Ali Imran (3) ayat 155.

Ijtihad ulama lainya menyebutkan bahwa lailatul qadar jatuh pada tanggal 17 Ramadhan, ketika al-Qur’an pertama kali turun kepada Nabi Muhammad. Menurut mereka, lailatul qadar dalam kutipan ayat di atas adalah sama dengan ayat Allah dalam Q.S. al-Dukhan (44) ayat 3-6: "Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, (yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami”

Sebagian ulama lainnya menemukan isyarat yang dikemukakan Rasulullah, dalam haditsnya bahwa lailatul qadar jatuh pada hari-hari ganjil sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, yaitu mulai dari tanggal 21, 23, 25, 27 dan 29 Ramadhan. Kehadiran lailatul qadar dalam tanggal tersebut dapat ditunggu.

Perbedaan pandangan para ulama ini menunjukkan bahwa datangnya lailatul qadar adalah misteri, tidak diketahui siapa pun, dan tampaknya dirahasiakan oleh Rasulullah Saw. bagi umatnya. Rasulullah merahasikan hadirnya lailatul qadar mengandung hikmah agar orang yang berpuasa semakin meningkatkan intensitas ibadahnya kepada Allah SWT sepanjang Ramadhan. Semakin tinggi tingkatan ibadah seseorang, maka semakin tinggi pula pahala yang akan didapatkan, dan semakin dekat untuk meraih tingkatan taqwa, seperti dijanjikan bagi orang-orang mukmin berpuasa.

Sebagai sebuah peristiwa “mistis”, tentu saja semua umat Islam yang berpuasa sangat menginginkan kehadirannya. Untuk menyambut kedatangannya, harus menyiapkan diri dengan berbagai ibadah. Rasulullah menganjurkan agar mencari lailatul qadar dan mengisinya dengan ibadah pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan. Rasulullah bersabda: “Carilah malam lailatul qadar dalam sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan. Siapa saja yang menghabiskan malam lailatul qadar dengan beribadah, dengan motif keimanan dan kepasrahan, maka dosanya akan diampunkan”.

Ibadah-ibadah yang perlu ditingkatkan intensitasnya antara lain; melakukan iktikaf, berdzikir, berdoa, bertadarus dan bertadabur atas kandungan al-Qur’an, mengeluarkan zakat fitrah, memperbanyak shadaqah, dan lainnya. Dengan melaksanakan ibadah-ibadah tersebut, dapat menimbulkan kesadaran ruhani untuk meningkatkan kepasrahan untuk merasakan kebenaran Allah Swt. Dengan kata lain, lailatul qadar adalah momen penemuan diri terhadap jalan kebenaran, yang nilai pahalanya lebih dari 80 tahun. (Penulis adalah Dekan Fakultas Hukum Universitas Pancasakti Tegal)
Share this post :

RANAH NEWS

Berita Populer

Statistik

 
| |
Copyright © 2016. ranahpesisir - All Rights Reserved
Admin by redaksi
Proudly presetnt by ranahpesisir.com