Selamat Datang!

Wabup Kendal: Kerjasama dengan Tanoto Foundation Berdampak pada Peningkatan Pembelajaran

NEW NORMAL- Mitra Tanoto Foundation dan Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Kemendikbud menggelar diskusi via zoom sinergi pusat dan daerah untuk meningkatkan kualitas pendidikan dasar/foto: kominfo kendal 
KENDAL (ranahpesisir.com)- Menghadapi new normal pendidikan, para pemangku kepentingan dari 21 kabupaten/kota mitra Tanoto Foundation dan Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Kemendikbud menggelar diskusi via zoom sinergi pusat dan daerah untuk peningkatan kualitas pendidikan dasar, Kamis (4/6/2020).

Diskusi tersebut juga membagikan pengalaman praktik baik dari daerah dalam penyelenggaraan pembelajaran jarak jauh (PJJ).

Iwan Syahril, Dirjen GTK Kemendikbud mengatakan, pada new normal yang menjadi prioritas utama adalah keamanan, kesehatan, dan keselamatan. Kalau daerahnya aman, tapi sekolah tidak aman, maka sekolah dilarang melaksanakan pembelajaran yang mengumpulkan massa. Begitu juga sebaliknya, jika komunitas sekolah menyampaikan tidak aman, maka tidak perlu dibuka.

“Menutup sekolah bukan berarti pembelajaran tidak terjadi. Pilihannya bisa melaksanakan belajar dari rumah, baik secara daring, luring, atau blended. Yang terpenting orientasi pembelajarannya berdasar pada kebutuhan siswa,” jelas Iwan.

Menyiapkan new normal pendidikan, Direktur Pendidikan Dasar Tanoto Foundation M Ari Widowati memaparkan survey yang dilakukan Tanoto Foundation kepada guru, kepala sekolah, orang tua, dan siswa dari 454 sekolah dan madrasah mitra.

"Salah satu temuan menarik adalah 48.3% siswa senang dengan belajar di rumah karena gurunya membuat mereka belajar lebih menarik, bervariasi, dan bermakna. Praktik baik ini perlu disebarkan agar lebih banyak siswa yang belajar dengan baik walaupun dirumah. Karena masih ada 46.8% lagi siswa yang menyatakan belajar di rumah tidak menyenangkan, dengan alasan terbanyak adalah terlalu banyak tugas dari guru," kata Ari.

Menurut Ari, pada masa pandemi, Tanoto Foundation tetap melatih dan mendampingi para guru, kepala sekolah, pengawas, dan dosen LPTK dan menyesuaikan materinya dengan konteks pembelajaran berbasis teknologi, daring dan luring.

Dalam kesempatan tersebut, Wakil Bupati Kendal, H Masrur Masykur menyebut kerja sama dengan Tanoto Foundation telah berdampak pada peningkatan kualitas pembelajaran di daerahnya. Pada masa pandemi, kerja sama ini dikembangkan dengan membuat inovasi layanan PJJ yang diberi nama Kendal Pintar Berbagi.

“Kami mengerahkan 129 guru penggerak untuk memastikan para guru di sekolah dapat memberikan layanan pembelajaran jarak jauh secara daring dan luring. Mereka mengembangkan lembar kerja yang bisa membuat siswa belajar aktif. Para siswa juga bisa mendapatkan pembelajaran daring melalui live streaming YouTube yang diselenggarakan rutin,” tutur Masrur.

Wakil Bupati Masrur juga menyebutkan, telah banyak inovasi dari sekolah-sekolah di Kendal, diantaranya Guru Penggerak membuat Lembar Kerja secara periodik untuk dibagikan kepada KKG untuk membantu mengembangkan pembelajaran jarak jauh. Pada jenjang SMP, juga telah disebarluaskan praktik baik yang dilakukan Pengawas, Kepala Sekolah, dan Guru selama masa pandemic melalui kanal KENDAL PINTAR Berbagi secara terjadwal, mengembangkan system informasi MBS, pengembangan digital library, dan menginisiasi blended learning untuk memfasilitasi pembelajaran bagi guru dan siswa.

Sementara itu, Koordinator Program PINTAR Tanoto Foundation Jawa Tengah - Yogyakarta Dr Nurkolis MM seusai gelaran live streaming, menyebutkan setidaknya ada 4 protokol yang bisa disiapkan oleh sekolah untuk memasuki kenormalan baru. Ia menyebutkan empat hal yang telah dipetakannya itu terdiri dari protokol kesehatan, protokol pedagogi, protokol sarpras, dan protokol pengelolaan.

“Protokol kesehatan terdiri dari penggunaan masker, pengecekan suhu tubuh, penggunaan sarung tangan, dan cuci tangan 1 jam 1 kali. Kemudian protokol pedagogi terdiri dari jumlah siswa 50 dari normal, jam belajar diperpendek, penerapan aplikasi pembelajaran, belajar di dalam dan di luar ruang, dan melibatkan orang tua dalam pembelajaran,” katanya

Doktor manajemen pendidikan ini menambahkan, untuk protokol Sarpras terdiri dari tempat cuci tangan, optimalisasi utilisasi UKS, sediakan ruang isolasi untuk yang bergejala, antar jemput dan transportasi umum, dukungan akses internet, wifi, gawai, quota. Sedangkan protokol pengelolaan terdiri dari belajar bergiliran (shift), penutupan tempat bermain, pelatihan e-learning untuk guru dan kepala sekolah, WFH untuk guru dan staf yang rentan, pengaturan kantin, Perpustakaan, dan meja kelas secara aman (>1,5 m). (*)
Share this post :

RANAH NEWS

Berita Populer

Statistik

 
| |
Copyright © 2016. ranahpesisir - All Rights Reserved
Admin by redaksi
Proudly presetnt by ranahpesisir.com