Selamat Datang!

Bupati Tegal: "Pertanian, Ladang Bisnis yang Tak Ada Matinya"

 

Bupati Tegal Umi Azizah berkesempatan meninjau panen semangka di Desa Kabunan Kecamatan Dukuhwaru/foto: istimewa

SLAWI (ranahpesisir.com)- Di era millenium ini tidak banyak anak muda yang berprofesi jadi petani. Namun tak demikian halnya dengan Andi Pranoto (38) yang memilih menjadi petani, mengais manisnya rezeki dari bertanam semangka inul. Apresiasi pun datang dari Bupati Tegal Umi Azizah yang berkesempatan meninjau panen semangka di lahannya di Desa Kabunan, Kecamatan Dukuhwaru, Senin (9/11/2020).


Andi termasuk kelompok generasi milenial yang terlahir antara rentang tahun 1980-an hingga 1995. Tanpa banyak berteori, Andi pun mempraktikkan cara bertani organik menanam semangka inul, semangka hibrida berbentuk lonjong seperti pepaya dengan warna kulit hijau dan daging buahnya berwarna merah, ada juga yang kuning.


Di lahan kering seluas 5.000 meter persegi ini Andi menanam tiga jenis varietas semangka inul, termasuk semangka berkulit kuning dengan daging berwarna kuning. Berbeda dengan semangka kulit hijau, semangka kulit kuning ini harga terendah per kilogramnya Rp. 6.000. Sementara semangka kulit hijau, harga terendahnya berkisar Rp 3.000 – 4.000 per kilogramnya.


“Saya menanam semangka inul ini karena rasanya manis sekali dan harga jualnya bagus di pasaran, disamping masa tanamnya yang tidak terlalu lama. Paling cepat 50 hari sudah bisa kita panene,” ujar Andi.


Ditanya soal perawatan, pria yang juga anggota Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kabupaten Tegal ini menuturkan, pengecekan lahan secara berkala dari mulai keasaman tanah, keberadaan hama dan pemberian nutrisi yang seimbang rutin dilakukan. Sementara untuk kebutuhan pengairan tidak terlalu ia risaukan karena tanaman semangka membutuhkan lebih sedikit air.


Pun demikian dengan soal pemasarannya. Andi mengaku sudah memberdayakan sedikitnya 20 orang penjual pengecer dengan sistem bayar setelah buah semangka laku terjual.


"Kita memilih tidak menjual hasil panen ini ke tengkulak, karena dengan memberdayakan warga atau orang-orang sekitar untuk menjualkan, kita sudah bisa untung dan mereka pun juga ikut kebagian rezeki,” tukasnya.


Sementara itu, Bupati Tegal Umi Azizah saat ikut memetik panen buah semangka ini menuturkan, pertanian adalah ladang bisnis yang tak ada matinya karena semua orang butuh makan, butuh pangan, termasuk buah-buahan. Dan hampir semua produk pangan dihasilkan oleh petani.


Karena itu, ia berharap generasi muda jangan ragu untuk masuk ke dunia pertanian.


“Kalau mau dihitung, penghasilan petani juga tidak kalah dengan penghasilan pegawai atau karyawan,” ujar Umi.


Petani muda, lanjut Umi, memiliki lebih banyak kesempatan. Selain pemikirannya yang lebih terbuka pada teknologi baru pertanian, termasuk penggunaan pupuk organik untuk mengurangi ketergantungannya pada pupuk kimia, petani muda memiliki peluang besar masuk ke rantai pemasaran tanpa harus tergantung pada tengkulak.


“Saya rasa era sudah berganti dan zaman sudah berubah. Petani millenial tidak berhenti hanya di titik produksi atau sektor hulu, tapi juga merambah sektor hilir, mulai dari pengemasan, pengolahan pasca panen hingga masuk ke jaringan pasar, terutama daring untuk meningkatkan nilai tambah produk yang tidak terbatas pada faktor produksi, tapi juga perdagangan,” terang Umi



Petani millenial tidak berhenti hanya di titik produksi atau sektor hulu, tapi juga merambah ke arah hilir, mulai dari pengemasan produk, pengolahan pasca panen hingga masuk ke jaringan pasar, terutama daring melalui marketplace.


Andi termasuk salah satu peserta Program Petani Muda Berdaya. Program ini merupakan hasil kerjasama KNPI Kabupaten Tegal dengan Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jawa Tengah serta Agro Tegal Mandiri (ATM).


Di temui di tempat yang sama, Ketua KNPI Kabupaten Tegal Muhammad Ersal Aburizal menuturkan, melalui program ini, diharapkan minat pemuda untuk menekuni dunia usaha pertanian semakin meningkat.


"Program yang baik ini akan terus kami dorong, kami fasilitasi agar anak-anak muda di Kabupaten Tegal tidak malu-malu lagi bertani. Melalui ini, kami pun juga turut menggalakkan kampanye pertanian organik,” jelas Ersal.(*)

Share this post :

RANAH NEWS

Berita Populer

Statistik

 
| |
Copyright © 2016. ranahpesisir - All Rights Reserved
Admin by redaksi
Proudly presetnt by ranahpesisir.com