| LALU LALANG- Pemandangan biasa terjadi hampir setiap hari ketika traktor penggarap sawah dan pencari rumput lalu lalang di jalan utama Perumahan Kalipucang Makmur/ foto: istimewa |
Brebes(ranahpesisir.com)-Jalan Perumahan Kalipucang Makmur di Desa Kalipucang Kecamatan Jatibarang Kabupaten Brebes, beralih fungsi dari sebelumnya.
Pasalnya, Jalan utama selebar5 - 7 meteran tersebut yang sebelumnya ramai khususnya untuk mondar mandir penghuni perumahan,kini kian ramai oleh lalu lalang orang luar perumahan yang bukan penghuni.
Mereka memanfaatkan akses jalan utama Perumahan untuk menunjang aktifitasnya, mempersingkat waktu dan memangkas jarak tempuh.
Kini setiap hari dan sudah menjadi pemandangan biasa, mereka para petani dan pencari rumput semakin bebas lalu lalang melintas keluar masuk perumahan Kalipucang Makmur.
Mereka para buruh sawah dan pencari rumput untuk pakan ternak dan petani penggarap sawah rata rata menggunakan motor dan sepeda, namun ada pula dengan menumpang atau diangkut menggunakan kendaraan roda tiga seperti Tossa,Viar maupun sejenisnya bahkan mobil pic up yakni colt dan Mitshubishi L300 dan Daihatsu Zebra yang sering pula di peruntukan untuk mengangkut benih dan hasil panen berupa bawang merah dan jagung serta karung berisi padi kering
Seakan wilayahnya sendiri mereka mengacuhkan dan tidak bisa membedakan bahwa yang mereka masuki dan lintasi adalah bukan jalan desa wilayah mereka berasal maupun jalan umum hasil pembangunan dari Pemerintah Kabupaten Brebes.
"Mereka acap kali mengindahkan etika sopan santun, bahwa di daerah orang terkadang ada dari petani yang mengendarai motor masuk dan melintasi area perumahan tanpa mengurangi kecepatan, entah terburu buru atau mengejar waktu, biasanya petani, buruh sawah atau pencari rumput yang masih muda usia, mungkin seneng liat jalan rata dan pas sepi jadi kadang ngebut," kata Ocim Supriatna, salah satu warga perumahan.
Parahnya lagi seringkali ada traktor untuk menggarap tanah sawah masuk melintasi jalan utama Perumahan saat pagi dan kembali saat petang dengan kondisi traktor yang tentunya kotor bercampur tanah sawah menempel roda yang terbuat dari besi. Pernah juga melintas masuk beriringan 3 unit traktor melintas menuju persawahan
Hal itu dibenarkan, Didik Banyumanik yang juga salah satu warga perumahan setempat.
Didik menegaskan, seharusnya mereka paham etika dan aturan walaupun tidak sekolah atau putus sekolah dan tidak bisa baca tulis misalnya.
"Peruntukan jalan utama Perumahan ya untuk aktifitas warga perumahan setempat,dimana mana jalan utama maupun gang di komplek Perumahan itu akses sepenuhnya bagi penghuni perumahan bukan orang sawah walaupun sebelum jadi komplek perumahan kawasan atau wilayah tersebut bekas lahan hijau atau lahan pertanian berupa sawah atau ladang," tegas Didik.
Meskipun komplek perumahan itu sederhana , bukan one gate atau satu pintu dan tidak berpagar keliling, tetap saja tidak ada hak bagi orang luar penghuni yang tidak berkepentingan keluar masuk komplek perumahan. Tanpa seijin pengurus lingkungan.
" Bebas keluar masuknya orang asing diluar penghuni perumahan bisa saja memicu kerawanan sosial, misalnya tindak pencurian alias rawan maling dan hal negatif lain yang tidak diinginkan," lanjut Didik.
Selama beberapa tahun bermukim di Perumahan Kalipucang Makmur,dijkemukakan Didik, tidak sedikit warga yang mempertanyakan tidak adanya gapura atau gerbang yang sengaja dibangun oleh pihak pengembang sebagai identitas maupun penanda lokasi perumahan.
" Ada beberapa tamu yang nyasar ketika hendak anjangsana ke rumah salah satu penghuni komplek perumahan, dan itu juga dialami kawan yang hendak main ke rumah saya," ujar Didik, menceritakan.
Menurutnya, Perumahan Kalipucang Makmur beda dengan beberapa Perumahan lain di kawasan sekitarnya yang tidak beda jauh kelasnya, seperti Perumahan Sembilan Bintang yang di fasilitasi dengan Gerbang berupa pagar kokoh dan pos keamanan lengkap dengan kamera CCTV. Perumahan Safira yang tidak hanya dilengkapi dengan fasilitas tempat ibadah yakni Musholla tapi juga pagar keliling dari besi untuk keamanan lingkungan dan kenyamanan penghuninya, dan malah sedang dibangunkan pos keamanan dan gapura identitas perumahan.
" Angsuran mungkin beda,namun fasilitas yang disediakan pengembang sangat bagus,real bukan sekedar iklan semata untuk menarik calon penghuni maupun pembeli rumah tersebut," ungkap Didik.
Hal senada disampaikan Saeful Mubarok warga setempat yang menyayangkan akses jalan perumahan yang sekarang justru ramai oleh lalu lalang petani dan pencari rumput.
Wulan, warga setempat juga menyayangkan adanya beberapa petani yang selesai menggarap sawah,membersihkan badan dengan mengambil air melalui kran meteran di teras rumahnya.
"Ada yang liat dan cerita ke saya kalau pas siang waktunya petani iistirahat dan pulang seringkali mencuci kaki dan tangannya dengan mengambil air dari kran rumah warga, bahkan teras rumah kami sering kotor ada bekas lumpur sawah yang tertinggal," keluh Wulan. Yang kini berdomisili di Kota Tegal karena berdagang.
Terkait diatas, warga berharap lingkungan perumahan bersih nyaman dan aman
Sebagai tambahan informasi, dampak dari lalu lalang para pencari rumput, seringkali jalan utama kotor karena rumput yang jatuh karena pencari rumput terlalu over kapasitas hingga beberapa diantaranya memuat hingga 3 karung rumput di motornya dan tidak diikat kuat hingga kadangkala jatuh berceceran di jalan utama yang mereka lewati.
Pernah juga fasilitas musholla yakni kran untuk berwudhu dan toilet untuk jamaah musholla digunakan untuk bersih badan petani hingga tidak jarang menyisakan lumpur di tempat wudhu jamaah musholla.
Serambi musholla juga pernah dimanfaatkan oleh petani sekedar untuk istirahat dan makan siang, biasanya petani perempuan.
Pernah juga petani malah membuka pagar bambudi area lahan kosong yang sengaja dibuat oleh warga guna menunjang keamanan lingkungan. Oleh mereka justru diterobos untuk lewat dan akses benih hingga rusak dan akhirnya terbuka dan beberapa waktu kemudian digunakan untuk akses muat hasil panen.(*)